Thursday, 20 August 2015

Pekikan Rindu

Hari -hari terlalu lambat berjalan untuk sebuah rindu, rindu yg memekik kuat tubuh seorang wanita. Rindu yg entah kapan menghilang.. Sebuah pertemuan tak juga bertamu. Kabar pun enggan menyapa. Apakah ia benar benar membutakan batin untuk sebuah rindu . Apakah tanpa pertemuan hatinya berpaling dan mencari mata yg mampu dijangkau? Apakah upayaku mencintanya dalam jarak masih sangat tak terlihat? Syukurlah Sungguh hidup hanya belantara keinginan, pernah suatu waktu aku ingin memikikkan perasaan ini sekuat kuatnya, menjadikan apa yg bukan dan belum milikku menjadi (seolah-olah) kumiliki. Allah benar benar terlalu Hebat menitipkan perasaan ini, segala daya upaya sering kukerahkan untuk menutupi semua hingga tak satupun mengendusnya. Sampai Suatu hari Seseorang menepuk pundakku dengan kuat " sekalipun ia seperti tidak berpotensi untuk menyakiti , namun kau harus paham bahwa ia tetap seorang lelaki, hatinya akan senantiasa berubah haluan, bahkan sampai hari akad tiba ia masih akan selalu menyeleksi perempuan mana yg akan dinikahinya. Simpan saja cintamu rapatrapat, hingga cinta menuntunnya kearahmu" Saat itu petir seketika menyambar panas. Kali ini benar benar seperti ada gemuruh hebat didalam Sana. Berhari hari menghening dikamar ini,merenungkan tiap Kata kalimat itu. Ya Tuhan Lalu bagaimana dengan hati yg terlanjur jatuh melumpuh dan meluruh dihatinya? Bagaimana dengan rindu yg tak juga tersampaikan? Lagi lagi terselip ragu diantara Yakinku. Wahai Allah yang maha membolak balikkan batin, Ku biarkan yang sudah jatuh melumpuh dan meluruh disana. Kubiarkan Hatiku diam dan tak bersuara, biarkan hingga ia paham akan menetap atau menghindar. Aku takkan lagi memaksa diri hanya untuk sebuah perasaan. jika memang dia takdir yg kau tetapkan, sampaikan rinduku dengan cara Mu.