Thursday, 26 February 2015

-

Hujan yang datang terlalu pagi membuat sekujur tubuhku enggan berpisah dengan kasur. Ada malas yang tiba-tiba muncul dan enggan pergi, sepertinya kasur terlalu erat memeluk tubuhku, sampai pada akhirnya aku menikmati hujan dari balik jendela kamar yang berada tepat dibawah kakiku.
aku mencoba mengikuti irama hujan diluar sana, sambil beberapa kali menyeruput teh sebagai penghangat ..Iramanya begitu monoton , aku benci itu , hujan yang terlampau deras terdengar seperti gemuruh setan yang menyeruak ke muka bumi.

sejam, dua jam aku menikmati ribuan air yang jatuh dari atas sana , tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti , teh hangat pun sudah kandas sejak tadi. 
Hand phone tak kunjung mengedipkan mata, seperti tak ada kehidupan didalamnya, tak ada yang ingin bertukar kabar melalui itu, ruangan ini semakin terasa dingin , semakin terasa kaku dan aku sadar menikmati hujan sendiri adalah perayaan sepi paling nyeri. 


Sunrise, Mendung dan Kopi Pahit

dia bukanlah gadis penunggu senja dibalik jendela

dia tidak suka menghabiskan waktu senja hanya untuk terpaku dibalik jendela, keindahan yang dirasa hanya sesaat, keindahan yang gadis-gadis lain sering agungkan..dia tidak begitu tertarik menjadi deretan wanita penunggu senja. Ada kepahitan yang terlukis tiap kali senja datang dan berakhir lagi, ada yang berusaha di lupakan secara tragis... namun dia pernah begitu menjadi penunggu setia sang senja sampai pada akhirnya senja mengkhianatinya. Sosok yang kerap menemaninya menikmati senja tiba-tiba saja menghilang dan enggan hadir lagi..sejak saat itu senja seperti sesuatu yang harus dihindari , sesuatu yang kedatangannya menyumbang perih

dia bukanlah gadis pengagum deretan pelangi selepas hujan

pelangi? aku yakin beberapa dari kalian kerap kali menunggu pelangi selepas hujan , meski keindahannya pernah begitu diagungkan namun saat ini dan mungkin seterusnya dia adalah gadis yang hidup tanpa pelangi, gadis yang tidak mengharapkan deretan pelangi selepas hujan, gadis yang enggan menatap langit setelah hujan reda... sejak hari itu tepatnya setelah lelaki penuh warna tiba-tiba membuat hitam hidupnya ia seakan sulit melihat pelangi diatas sana

dia bukan gadis penyuka hot chocolate

secangkir hot chocolate disuatu cafe sore itu adalah cangkir terakhir yang dia nikmati, meski sebelumnya secangkir hot chocolate adalah penghubung antara mereka..setahun lalu saat ia masih menjadi penikmat setia hot chocolate dan kamu yang mencoba mengikuti kegemarannya ... ribuan gelas telah mereka habiskan bersama hingga pada akhirnya sampailah mereka pada gelas terakhir disore selepas hujan, selepas menikmati pelangi dari balkon suatu cafe... tidak ada yang berbeda dari hot chocolate sore itu, rasanya masih sama dan takarannya masih sama, pelayan yang menyuguhkan juga masih mempunyai senyum yang sama ... entah bagaimana akhirnya dia menemukan perbedaannya , iya, setelah mereka sama-sama menghabiskan setengah cangkir hot chocolate tiba-tiba mulutmu terbuka, ada perkataan yang keluar dan enggan ia dengar, kamu terlihat ragu mengatakan itu dan dia yang terlalu peka mendengarkan , hanya sekali ucap.. yaaa kalimat itu mengandung bahan kimia berbahaya, dia berusaha melupakan tragedi sore itu hingga akhirnya memutuskan melupakan hot chocolate dan kisah didalamnya



Dia tidaklah seperti saat mereka masih bersama, saat masih menikmati senja, pelangi dan hot chocolate bersama. segalanya terasa asing jika dilakukan lagi .
ada hal yang harus dilupakan secepatnya dan entah bagaimana ..
mungkin ia akan mulai menikmati sunrise, menunggu mendung dan harus menyukai kopi pahit.







Tuesday, 17 February 2015

Hai~ Lihatlah~

Teruntuk yang pernah tertangkap indah oleh mata

Bagaimana kabarmu? libur membuat pertemuan menjadi sulit diciptakan.Aku pernah begitu membenci liburan, Tapi kali ini liburan menjadi sangat tepat ketika dipenghujung pertemuan kemarin kau menciptakan keadaan yang membuatku merasa terbodohkan dengan harapan-harapan yang sempat kukira berasal darimu namun nyatanya hasil karyaku sendiri.
Dan akhirnya liburan membuatku berhenti berkarya..

Bagaimana dengan lesung pipimu yang membentuk ketika senyum merekah itu kau torehkan untukku? maaf, maksudku untuk kami, ? masihkan dia menjadi pemanis dipipimu? Semoga saja masih seperti kemarin. Kemarin ketika aku masih menggagumi tiap pesonamu, kemarin ketika perlakuanmu masih ku nilai manis dan indah, kemarin ketika berbicara deganmu membuat moodku menjadi cukup baik seharian.

Apakah kau masih berlari dengan kecepatan tinggi? Apakah kau masih terbebani dengan perasaan dan harapanku? Berhentilah, berhentilah dan istirahatlah sejenak, aku yakin kau lelah dan kehabisan nafas, duduk dan torehkan sedikit wajahmu kebelakang...lihatlah aku sudah tertinggal jauh diribuan kilometer.
Kini, aku ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang agaknya tak perlu untuk kau tau, sesuatu yang harusnya tidak aku tuliskan untukmu, sesuatu yang aku yakin kau tidak akan menaruh reaksi atas hal ini.

Tampan, aku tak lagi mengerjarmu,
aku tidak lagi mengikuti harapan semu, harapan atas imajinasiku sendiri.
Semenjak hari itu, entah bagaimana tiba-tiba aku tersentak dan tersadar, aku berdiri dan mulai menyingkap yang selama ini meghalangi pandangan, bahwa aku terlalu mengikuti keegoan masa remaja. untuk harapan yang tercipta atas imajinasiku sendiri, bagaimana mungkin aku terus dipermainkan oleh mereka...
Aku memberhentikan harapanku bukan lantas membencimu,aku hanya mulai mencintai nuraniku, aku hanya mulai mengerti bagaimana mendewasakan perasaan, aku harus segera berkarya atas hal-hal lain bukan menciptakan harapan yang justru berbelati.

Aku menulis tulisan ini tidak lagi diiringi air mata, tidak lagi membuatku sesak seperti sajak yag sering kubuat untukmu.
Diamlah ditempatmu, jangan beranjak sedikitpun, aku nyatanya telah lincah berjalan mundur , mundur kembali ketempat pertama kali aku menemukan harapan.


                                                                                            dari gadis yang terbunuh oleh imajinasinya