Teruntuk yang pernah tertangkap indah oleh mata
Bagaimana kabarmu? libur membuat pertemuan menjadi sulit diciptakan.Aku pernah begitu membenci liburan, Tapi kali ini liburan menjadi sangat tepat ketika dipenghujung pertemuan kemarin kau menciptakan keadaan yang membuatku merasa terbodohkan dengan harapan-harapan yang sempat kukira berasal darimu namun nyatanya hasil karyaku sendiri.
Dan akhirnya liburan membuatku berhenti berkarya..
Bagaimana dengan lesung pipimu yang membentuk ketika senyum merekah itu kau torehkan untukku? maaf, maksudku untuk kami, ? masihkan dia menjadi pemanis dipipimu? Semoga saja masih seperti kemarin. Kemarin ketika aku masih menggagumi tiap pesonamu, kemarin ketika perlakuanmu masih ku nilai manis dan indah, kemarin ketika berbicara deganmu membuat moodku menjadi cukup baik seharian.
Apakah kau masih berlari dengan kecepatan tinggi? Apakah kau masih terbebani dengan perasaan dan harapanku? Berhentilah, berhentilah dan istirahatlah sejenak, aku yakin kau lelah dan kehabisan nafas, duduk dan torehkan sedikit wajahmu kebelakang...lihatlah aku sudah tertinggal jauh diribuan kilometer.
Kini, aku ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang agaknya tak perlu untuk kau tau, sesuatu yang harusnya tidak aku tuliskan untukmu, sesuatu yang aku yakin kau tidak akan menaruh reaksi atas hal ini.
Tampan, aku tak lagi mengerjarmu,
aku tidak lagi mengikuti harapan semu, harapan atas imajinasiku sendiri.
Semenjak hari itu, entah bagaimana tiba-tiba aku tersentak dan tersadar, aku berdiri dan mulai menyingkap yang selama ini meghalangi pandangan, bahwa aku terlalu mengikuti keegoan masa remaja. untuk harapan yang tercipta atas imajinasiku sendiri, bagaimana mungkin aku terus dipermainkan oleh mereka...
Aku memberhentikan harapanku bukan lantas membencimu,aku hanya mulai mencintai nuraniku, aku hanya mulai mengerti bagaimana mendewasakan perasaan, aku harus segera berkarya atas hal-hal lain bukan menciptakan harapan yang justru berbelati.
Aku menulis tulisan ini tidak lagi diiringi air mata, tidak lagi membuatku sesak seperti sajak yag sering kubuat untukmu.
Diamlah ditempatmu, jangan beranjak sedikitpun, aku nyatanya telah lincah berjalan mundur , mundur kembali ketempat pertama kali aku menemukan harapan.
dari gadis yang terbunuh oleh imajinasinya