Thursday, 26 February 2015

-

Hujan yang datang terlalu pagi membuat sekujur tubuhku enggan berpisah dengan kasur. Ada malas yang tiba-tiba muncul dan enggan pergi, sepertinya kasur terlalu erat memeluk tubuhku, sampai pada akhirnya aku menikmati hujan dari balik jendela kamar yang berada tepat dibawah kakiku.
aku mencoba mengikuti irama hujan diluar sana, sambil beberapa kali menyeruput teh sebagai penghangat ..Iramanya begitu monoton , aku benci itu , hujan yang terlampau deras terdengar seperti gemuruh setan yang menyeruak ke muka bumi.

sejam, dua jam aku menikmati ribuan air yang jatuh dari atas sana , tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti , teh hangat pun sudah kandas sejak tadi. 
Hand phone tak kunjung mengedipkan mata, seperti tak ada kehidupan didalamnya, tak ada yang ingin bertukar kabar melalui itu, ruangan ini semakin terasa dingin , semakin terasa kaku dan aku sadar menikmati hujan sendiri adalah perayaan sepi paling nyeri. 


No comments:

Post a Comment